Beyond The Auto's Enthusiasm
IndeksContact Us
MOBIL  

Waspada Tsunami Jatim Setinggi 16 Kali Mitsubishi Xpander

Ilustrasi
Otoplasa.co – Pernah membayangkan tinggi tsunami yang berpotensi menghantam pesisir Jawa Timur bagian selatan?
Tak tanggung-tanggung dari prediksi akhir bulan lalu, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengumumkan hasil pemodelan matematis yang dilakukannya guna memprediksi gempa dan tsunami terkuat dan terbesar adalah setara Magnitudo (M) 8,7 dan sangat mungkin diikuti tsunami setinggi 29 meter maksimal. Ketinggian ini setara dengan 16,5 kali lipat bilamana Mitsubishi Xpander (tinggi 1,730 meter) ditumpuk berjajar ke atas!
Dr Ir Amien Widodo MSi, pakar geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
Dr Ir Amien Widodo MSi, pakar geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)

Melihat hal tersebut, Dr Ir Amien Widodo MSi, pakar geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) turut buka suara menanggapi. Menurutnya, pemodelan yang dilakukan BMKG merupakan langkah awal yang tepat. Mengingat daerah Jawa Timur terbentuk karena adanya tumbukan lempeng Eurasia dan Indo-Australia, sehingga menjadi suatu keharusan untuk meneliti bab kegempaan di Jawa Timur. Pasalnya, BMKG bukan tanpa alasan menyebutkan skenario terburuk yang mungkin menimpa.

“Pemodelan ini menunjukkan worst scenario kemudian diumumkan, karena dalam lima bulan terakhir diketahui frekuensi gempa yang terjadi di Jawa Timur sangat tinggi,” ungkap dosen Departemen Teknik Geofisika itu. Tingginya intensitas terjadinya gempa ini patut dicurigai, belajar dari gempa besar Jogj pada 27 Mei 2005 silam.

Salah satu yang menjadi pertanda sebelum gempa Jogja itu terjadi adalah terekam aktivitas kegempaan yang semakin sering. Ketika itu, frekuensi gempa mengalami kenaikan, tetapi tidak lebih dari 50 gempa setiap bulannya. “Sementara itu, di lima bulan terakhir ini gempa yang terekam selalu lebih dari 500 kejadian per bulan,” jelas Amien.

Sangat jauh perbedaan frekuensi tahun 2005 lalu dengan tahun sekarang ini. Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita jauh lebih waspada. Terlebih lagi, tambah Amien, tumbukan lempeng yang menyusun Jawa Timur ini panjangnya sekitar 250 sampai 300 kilometer. Hal itu menunjukkan gempa sangat mungkin terjadi di berbagai titik, di wilayah yang ada di sekitar zona subduksi, yakni zona tempat terjadinya tumbukan itu.

Pengamatan aktivitas gempa juga dilandaskan pada data seismik yang terukur, selain mengacu pada sejarah kegempaan. Meski menurut penelitian aktivitas seismik yang terekam selama ini tidak merata, tetapi menurut Amien, justru hal itu yang perlu dijadikan perhatian. “Jika sewajarnya intensitas gempa di setiap titik zona subduksi adalah sama, tetapi ditemukan zona dengan gap seismic, artinya ada kemungkinan lempengan terkunci dan akan lepas sewaktu-waktu,” paparnya sederhana.

Data BMKG
Grafik kejadian gempa bumi di Indonesia oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) tahun 2021 menunjukkan jumlah kejadian gempa yang tinggi

Di Indonesia, zona dengan gap seismic ditandai di sembilan wilayah dari Sabang sampai Merauke. Salah satunya ada di Jawa Timur dekat dengan pulau Bali. Jika daerah yang diperkirakan sedang mengalami kuncian antarlempengnya pada akhirnya lepas dan menyebabkan gempa yang besar, dihitung akan ada waktu 20 sampai 25 menit untuk air mencapai daratan.

“Belum lagi, jika gempa yang terjadi berkekuatan M 8,7, akan mendorong sesar-sesar di Jawa Timur sehingga tereaktivasi,” imbuhnya. Sesar yang tereaktivasi akan dapat menyebabkan gempa-gempa lain yang akibat dislokasi. Sedangkan, sesar-sesar tersebut melewati wilayah padat penduduk, seperti Banyuwangi, Probolinggo, Pasuruan, dan Surabaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *