Beyond The Auto's Enthusiasm
IndeksContact Us
OTOLAW  

Cagar Budaya Yani Golf Minim Perawatan Tapi Memikat

Cagar Budaya Yani Golf

Otoplasa.co – Ada pengalaman menarik ketika Otoplasa menikmati wisata cagar budaya di lapangan golf Ahmad Yani yang berlokasi di Jalan Golf No 1, Gunung Sari, Dukuh Pakis – Surabaya. Di lahan seluas 59 hektar tersebut, teryata menyimpan berbagai sensasi yang memikat. Termasuk saat bersua dengan Ayam Alas atau Ayam Hutan hingga burung-burung liar ala Poksai maupun Perkutut dan yang lainnya, ketika melewati jalanan paving bersama Nissan X-Trail.

Cagar Budaya Yani Golf
Di sini Otoplasa bersua dengan Ayam Hutan (tunggu videonya di Youtube Otoplasa Zone)

Keberadaan satwa langka di hutan Gunung Sari yang tersisa tentu menjadi momen istimewa. Bagaimana tidak bila biasanya harus ke gunung atau hutan yang jauh dari perkotaan, justru ayam alas itu masih hidup liar di tengah-tengah kota Surabaya.

Hanya saja keberadaan binatang liar itu terusik dengan ulah oknum tak bertanggung-jawab dari pengelola lapangan golf Ahmad Yani. Dimana keberadaan pepohonan yang harus dijaga justru dibakar secara membabi-buta. Seperti yang dikeluhkan Hasan, Ketua Harian Yayasan Lapangan Golf Ahmad Yani.

Hasan
Hasan, Ketua Harian Yayasan Yani Golf

Menurutnya sebagai kawasan Bangunan Cagar Budaya dan banyak menyimpan nilai sejarah Kota Surabaya, seharusnya lingkungan ekosistem yang terdapat di lapangan golf Ahmad Yani harus dipertahankan kelestariannya. Keberadaannya tidak boleh ada pengrusakan di dalam kawasan seperti pembakaran beberapa jenis pohon di hole 8 dan hole 16. Bahkan di area ini terdapat monumen penemuan kerangka jenasah para pahlawan saat perang 10 Nopember Surabaya. Selain itu kisah lainnya adalah lokasi golf favorit semasa hidup bagi pahlawan revolusi Letnan Jendral Ahmad Yani bila bertugas di Surabaya. Tak mengherankan untuk mengenang namanya diambil untuk lapangan golf tertua setelah Rawamangun, Jakarta.

“Pengelola lapangan golf yakni PT Tamara Global Investama – anak perusahaan dari PT Bhakti Tamara Group, yang diberi kewenangan oleh Yayasan Yani Golf, tidak menjalankan hak dan kewajibannya. Hak pengelolaan selama 5 tahun yang dimulai sejak 2016 hingga saat ini tidak ada hasilnya sama sekali,” sesal Hasan.

cagar budaya
Bukti Yani Golf sebagai kawasan Bangunan Cagar Budaya

Bahkan Pajak Bumi Bangunan (PBB) tahunan juga tidak dibayar pengelola. “Sebenarnya pengurus yayasan sudah menegur PT Tamara sejak tahun pertama pengelolaan namun tidak direspon. Pengurus yayasan juga sudah berkoordinasi dengan Pemkot Surabaya untuk pembayaran PBB. Perkiraan tunggakan PBB yang harus dibayar PT Tamara di kisaran Rp 5 miliar hingga Rp 6 miliar,” terang Hasan didampingi pengurus yayasan lainnya.

Tak tahan dengan semakin berkurangnya keeksotisan lapangan Yani Golf, akhirnya yayasan membulatkan tekad mengambil alih pengelolalaan tepat pada 1 Oktober 2021. Padahal kerjasama kontrak baru berjalan 5 tahun dari total perjanjian selama 35 tahun. “Dalam kontrak kesepekatan, PT Tamara mengelola Yani Golf untuk 35 tahun. Namun yang jelas, pembayaran PBB selama 5 tahun tetap menjadi kewajiban PT Tamara,” wanti Hasan yang terkenal akrab dengan rekan-rekan media bisnis dan otomotif.

terbakar
Bekas tanah menghitam dan pohon meranggas akibat pembakaran lahan

Sebagai pengingat di masa kejayaannya, lapangan Yani Golf adalah lokasi olahraga golf paling favorit. Dulu untuk bermain di sini menerapkan inden karena antrian bermainnya lumayan panjang. Hanya saja seiring dengan minimnya perawatan, lambat laun pengunjungnya semakin berkurang hingga yang sering terjadi tak ada yang datang. Padahal ada ratusan orang caddy yang mengantungkan nasibnya dari kedatangan tamu-tamu untuk ber-golf ria. Tercatat kini jumlah caddy tersisa 50 orang yang juga tak selalu mendapatkan tamu di setiap harinya.

Dari pengamatan Otoplasa sesungguhnya banyak potensi menarik yang mampu mendatangkan wisata. Adanya hutan tropis yang masih tersisa dengan satwa andalannya berupa ayam alas, tentu menjadi hal yang sangat dinanti-nanti oleh pengunjung. Namun karena adanya pohon dan rumput yang dibakar, kini tampak sekali tanahnya yang sebelumnya asri tampak retak-retak merekah hitam.

lahan terbakar
Pembakaran dengan sengaja kawasan cagar budaya merupakan tindak pidana

“Sungguh keterlaluan pengelolaannya. Ini adalah asset berharga milik bersama, tapi dibiarkan dan dibakar seperti ini,” sesal Hasan.

Tak mau berlarut dengan rasa prihatin yang memuncak, Hasan pun bersama anggota pengurus yang lain kini bersama-sama berupaya melakukan hal terbaik untuk pemulihan lapangan Yani Golf. Diantaranya dengan melakukan perbaikkan termasuk pengecatan fasilitas hingga penanaman rumput dan pohon. “Kami ingin memulihkan dan mengembalikannya seperti semula. Semoga para caddy bisa kembali bekerja seperti semula. Kasihan mereka setelah sekian lama nasibnya tak diperhatikan oleh pengelola sebelumnya,” pungkas Hasan. (anto)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *